, , , , , ,

Menelisik Sejarah Jalan Utama Di Pulau Belitong Pada Masa Kolonial

oleh
oleh

BELITUNG TIMURĀ belitonginfo.com – Jalan merupakan prasarana tranportasi yang sangat penting dalam menunjang segala kebutuhan manusia, berikut segelitir cerita tentang pembuatan jalan utama pada masa kolonial Belanda, Sabtu (14/5/2022).

Akses jalan yang bagus dan baik sangatlah masyarakat butuhkan. Pembuatan jalan di Indonesia ini sangatlah beragam sejarahnya.

Sejarah pembuatan jalan di Indonesia ini sudah mulai semenjak masa kolonial Belanda datang untuk menjajah Indonesia.

Banyak jalan-jalan yang kolonial Belanda buat untuk memudahkan akses mereka, seperti salah satu jalan yang terkenal yaitu jalan Anyer – Panarukan yang pembangunannya pada masa Herman Willem Daendels.

Begitu pula dengan jalan di Pulau Belitung yang menjadi sarana jalan utama yang kita nikmati saat ini. Pembangunannya juga pada masa kolonial Belanda.

Nah, bagaimanakah sejarah jalan tersebut ? Akan kita rangkum dalam tulisan yang kami kutip dari pemerhati sejarah Manggar dan Belitung Timur, Rico Pebrico.

Pada jaman Depat atau kerajaan di Belitung dahulu tentang riwayat jalan di dapat hanya dalam bentuk bahasa tuturan saja yang di sebutkan bahwa adanya jalan penghubung antara daerah pada masa itu walau bentuk hanya jalan setapak.

Pada masa pembuatan jalan utama atau jalan raya yang ada sekarang ini di bangun dalam beberapa tahapan. Yang pengerjaannya oleh pemerintah Hindia Belanda dan perusahaan tambang Belanda (Billition Mastcappy).

Tahap Pembuatan Jalan Di Pulau Belitong Pada Masa Kolonial

-Tahap pertama,
Pembangunan jalan utama mulai oleh Loudon sebagai pimpinan tertinggi di perusahaan Tambang Belanda. Jalan setapak selebar 0,9 m dari Tanjungpandan ke Sijuk dan dari Tanjungpandan ke Kampung Prawas/Perawas.

-Tahap kedua,
Pemerintah Hindia Belanda pada Tahun 1864, oleh Asisten Residen Von Gaffron membangun jalan dengan bantuan perusahaan Billiton Mastcappy. Membuat jalan dari Tanjungpandan melewati Simpang Prawas ke Dendang dan di Badau melewati Simpang tiga menuju Manggar. Tepat sebelum pos 8 Madu (simpang Renggiang sekarang ini) di buat di jalur jalan pintas ke Gantung.

-Tahap ketiga,
Pada tahun 1866 De Groot dalam kepemimpinannya di perusahaan Billiton Mastcappy memulai membangun jalan selebar 2,5. M yang dapat kereta kuda lalui dengan menyelesaikan 203 pos ( 1 pos 4,5 Km).
Lanjut Jalan dari Tanjungpandan melalui Buding ke Manggar. Kemudian De Groot membangun jalan dari Tanjungpandan ke Membalong, di daerah persimpangan Tanjung Rusa hingga ke Kemiri, dari Membalong hingga keTeluk Balok, kemudian lanjut dari Dendang sampai Gantung.

Terakhir De Groot memperlebar jalan setapak ke Sijuk dan membangun jalan pantai dari Sijuk melintasi Tanjong Binga kembali ke Tanjung Pandan, juga menghubungkan Sijuk ke Buding.

Atas adanya saran De Groot yang akhirnya Pemerintah Hindia Belanda melalui Asisten Residen pada saat itu bernama Ecoma Verstege memaksakan penduduk asli pribumi untuk menetap di kampung-kampung yang secara teratur. Pembangun di setiap tiga pos (4,5 KM.) di sepanjang jalan utama.

Dengan adanya jalan raya akan membebaskan penduduk di pedalaman dari keterisolasian dan sangat menguntungkan buat mereka.
Terlebih lagi jika masyarakat pribumi yang akan berdagang, mereka akan lebih mudah menjual hasil hutan juga hasil ladangnya.

Tahap selanjutnya,
Di tahun 1909 jalan raya dari Tanjungpandan melalui Buding ke Manggar mendapat perbaikan dengan pengaspalan. Sehingga dapat untuk lalu lintas mobil. Pengerjaan jalan tersebut atas biaya Perusahan.


Ayo yang mau Kepo dengan perkembangan berita belitonginfo.com dapat mengklick link di bawah ini :

Facebook (dengan kamu mengklick link ini, kamu akan masuk ke Facebooknya belitong info) ayo klik sekarang juga

No More Posts Available.

No more pages to load.